Langsung ke konten utama

Bongkar Gudang (5)

Maaf ya kalau scene ini baper banget. Aku gak bisa gak baper kalau tentang ini. Makanya perasaanku lagi campur aduk sekarang. Sempet nangis juga pas ngetik. Wkwkwk bazingan memang. Jangan baper juga ya. Cukup aku aja. Ah, iya ada scene yang cuma ku copy gitu doang. Capek ngedit.
--------------------------------------------------------------------------------- 

Kebanyakan orang memutuskan untuk tidak saling berhubungan dengan mantan kekasihnya namun beda denganku dan Zuhal. Kerap kali aku menghubunginya karna aku merindukannya ataupun mengajaknya kembali bersama. Mungkin di otaknya dia udah ngecap aku sebagai wanita gak tau diri karna mohon-mohon ke cowok buat balikan. Yaa, namanya berjuang, apapun aku lakuin walaupun merusak harga diriku sekalipun. 

Aku sibuk menghubungi sahabat-sahabatnya Zuhal hanya sekadar menyuruh mereka untuk selalu ada buat Zuhal karna aku gak bisa lagi ngelindungin Zuhal ataupun bikin Zuhal senyum lagi. Sedih rasanya cuma bisa nikmatin senyumnya lewat foto. Aku terus menghabiskan hari-hariku menangis di dalam kamar. Zuhal, aku gak kuat nah gak bareng kamu. Rasanya aku mau mati aja. Sakit bangsat! Anjing! Cuma karna kamu bosen, kamu rela putus sama aku. Laki-laki bodoh! Bodoooh!

Ibuku terus membujukku untuk menyantap makanan yang sudah ia bawakan ke kamarku karna semenjak Zuhal mutusin aku, aku tidak selera makan sedikitpun. Aku tetap bersikeukeuh gak mau makan. Bapakku sampe heran kenapa anak gadisnya sesedih ini karna cowok brengsek macam Zuhal. Sahabat dekatku ikut membujukku untuk makan di sekolah tapi tetap saja hasilnya nihil. Bekal yang di bawakan ibuku malah aku kasih ke anak-anak cowok kelasku. Maagku jadi terus kambuh karna ulah bodohku. Ah! Gak usah manja gitu dong perut! Gak makan juga aku gak bakal mati kok. Pokoknya aku baru mau makan kalau Zuhal balikan sama aku.

Aku ingat ketika terakhir kalinya aku di anter pulang Zuhal. Pas itu kami sudah putus hari pertama. Sakitnya masih sangat terasa. Lukanya juga masih lebar dan dalam. Btw, mataku juga bengkak sekali waktu itu. Mirip matanya Yoda yang ada di Star Wars. Aku berlari dari rumah temanku menuju sekolah. Lumayan jauh tapi gapapa deh demi pulang bareng Zuhal. Ah, iya waktu itu aku dispen buat ngurus dekor untuk acara besar OSIS. Aku gak mau Zuhal jemput aku di rumah temenku jadi aku balik lagi ke sekolah walaupun jauh. Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 3 siang. Bentar lagi keluaran njir. Harus cepet larinya nih. 

Aku mendudukan bokongku begitu saja di bawah pohon. Teman-temanku memperhatikan wajahku yang merah akibat lari dan karna cuacanya yang sangat panas. Keringatku bercucuran membasahi wajah. Sumpah dah aku sengok. Anjir ini demi-demi pokoknya. Buru-buru aku meneguk minumku yang tinggal seperempat.

“Habis dekor?” tanya salah temenku.

“Iya. Capek njir aku lari dari rumah Bella.” Seruku seraya mengatur nafas.

“Ngapain juga kamu lari bodo?! Minta jemput Zuhal disana lah.”

“Gak ah. Gak enak sama dia. Kasian bolak-balik.”

“Yaelah, dia kan pacarmu. Ngapain gak enak segala. Lebay.” Salah, guys. Sekarang aku sama Zuhal gak ada apa-apa lagi. Semuanya udah kandas gitu aja. Aku menahan air mataku yang hampir mengalir.

“Ahhh, debunya banyak banget! Sialan bus tua!” umpatku yang kebetulan ada bus sekolah lewat. Aku mengusap mataku. Jangan nangis, May. Jangan.

“Tuh, pacarmu datang.” Celetuk temanku. Aku tersenyum kepada Zuhal tapi tidak dengannya. Ia menghampiriku.

“Ayo pulang.” Ajak Zuhal ketus. Aku tetap tersenyum.

“Ayo!” seruku bersemangat.

Kali ini berbeda. Aku tidak menggandeng tangannya lagi ataupun menarik tasnya. Zuhal juga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Jadi gini caramu memperlakukan aku sekarang? Bagus. Aku melirik tempat gantungan di tasnya yang sudah kosong.

“Loh Zu mana gantungan boneka yang aku kasih?” tanyaku.

“Hilang. Jatuh.” Ujarnya santai. Sekuat tenaga aku menahan emosi dan tangisku.

“Kok bisa?”

“Gak tau.” Bisanya kamu ngomong kayak gitu njing!! Untung masih sayang.

“Udah kamu cari?”

“Udah tapi gak ada.”

“Hah, yasudahlah.” Ujarku akhirnya. Zuhal hanya diam tanpa menoleh sedikitpun.

Selama perjalanan pulang, aku menangis. Nangis sembunyi-sembunyi gitu. Kok dia makin jahat gini sih? Kalah dah ibu tirinya Cinderella. Emang aku salah banget ya ke dia? Udah tadi malam di campakkin, masa hari ini mau di campakkin lagi. Lebur gak lama ini perasaan. Mas, serius ini adek gak kuat. Nyerah mas. Mau pulang ke rumah Tuhan aja sekarang daripada harus ngerasain sakit karna kamu. Akhirnya ketauan sama Zuhal kalau aku nangis. Zuhal menatapku dari kaca spion.

“Ih, ngapain nangis? Alay banget sih.” Ejek Zuhal.

“Huzal, aku mau kayak gini terus. Aku gak mau pisah sama kamu.” Ujarku terus terang. Zuhal tersenyum dari kaca spion. Aku juga masih pingin liat senyummu Zu. Please, Zu, aku mohon..

“Bentar lagi kamu juga terbiasa kok.” Ujar Zuhal. Dikira move on gampang apa?! Kalau aku baru move on tiga tahun lagi masih kamu bilang bentar? Huh?!

“Huzal.. aku serius. Aku masih pengen sama kamu. Jangan tinggalin aku…” isakku. Zuhal memberhentikan motornya setelah sampai di rumahku. Aku turun dari motornya. Spontan Zuhal mengelap air mataku yang sudah membasahi pipiku.

“May, kamu bisa dapatin yang lebih baik di banding aku.”

“Tapi gak ada yang lebih baik di banding kamu di mataku, Huzal”

“Mulai sekarang berhenti manggil Huzal ya. Please.” Seakan kiamat datang lebih cepat. Hatiku hancur sehancur-hancurnya hingga terasa menjadi abu. Salivaku mengkelu, tak bisa berucap apapun. Jantung, berhenti saja berdetak. Aku ingin mati saja sekarang.

“Okey. Makasih ya udah nganterin. Hati-hati Zu.” Ujarku dengan suara bergetar karna menahan tangis. Aku langsung berlalu meninggalkannya. Brengsek. Kenapa aku bisa sayang sama kamu sampe sedalam ini? Sampai aku menjatuhkan harga diriku lagi. Aku menggerutu kesal seraya menangis. Netraku memicing kearah Muza. Aku memeluk Muza yang tergeletak di atas kasur. Muza, jangan tinggalin Bibu juga ya. Bibu mohon..

💔💔💔


"Zuhal, aku janji bakal nonton tujuh belasan nanti. Boleh ya aku nanti foto bareng?"

Jantungku berdegup kencang tak karuan. Tubuhku mulai dingin termasuk tanganku. Ini bukan karna aku masuk angin tapi aku grogi coy. Aku mengusap kedua telapak tanganku. Jujur perasaan yang saat ini aku rasain grogi, takut dan gugup menjadi satu. Aku melirik keluar jendela mobil. Pasukan paskibraka baris menuju lapangan upacara. Seketika air mataku menggenang. Aku melihat laki-laki itu dengan pakaian paskib lengkapnya. Hatiku berdesir. Dia lebih tampan dari biasanya walau kulitnya menghitam. Itu pengakuan dari hatiku yang terdalam. Ini tidak bohong. Wanita setengah baya di sampingku menggenggam tanganku bermaksud menenangkanku. Iya semua akan baik-baik saja..

Beberapa minggu yang lalu, aku sibuk mencari tumpangan untuk bisa pergi untuk menonton upacara tujuhbelasan. Di pikiranku "bagaimanapun juga, apapun itu, aku gak peduli aku harus bisa datang!" jadi aku memaksa temanku untuk memberiku tumpangan tapi semuanya juga tidak tau akan naik apa kesananya. Entahlah mereka memang pelit atau beneran gak ada kendaraan. Untungnya Tuhan memberiku jalan. Malamnya ketika aku ke rumah Zuhal, mamanya mengajakku untuk pergi bareng. Sujud syukur hrs aku lakukan saat itu juga. Kalau perlu, selamatan juga nih di rumahku. Seneng banget dan bersyukur juga karna Tuhan gak pelit  Keesokan harinya, aku terlambat bangun. Anjay! Udah nebeng, telat lagi. Di dalam benakku hanya kamu, kamu, dan kamu jadi secepat mungkin aku mengendarai motor menuju rumah Zuhal.

Lamunanku buyar ketika mobil sudah terpakir. Aku dan keluarga Zuhal memasuki lapangan upacara. Tamu undangan duduk di tribun yang mengelilingi lapangan. Aku duduk disamping adik perempuannya. Sebenarnya adiknya sudah aku anggap adikku sendiri juga karna jika aku menyayangi laki-laki itu berarti aku harus menyayangi keluarganya juga walaupun detik ini aku sudah bukan kekasihnya lagi. Aku dan keluarganya menikmati drama kolosal yang ditampilkan. Kemudian, pelaksanaan upacara pun tiba.

Pasukan putih-putih berbaris rapi. Aku sibuk merekam dengan handycam milik orang tuanya. Rasanya aku ingin menangis di mukanya Zuhal langsung. Aku bangga banget sama dia walau sekarang aku bukan apa-apanya lagi dan tak akan pernah menjadi miliku lagi. Ia berjalan dengan tegap dan gagah. Ingin aku meneriaki namanya tapi tak mungkin, bisa-bisa aku dimarahin sama security yang tadi teriak-teriak kayak panci jatohan. Berisik. Selama pelaksanaan upacara berlangsung, aku tak henti-hentinya berbicara dengan handycam. Contohnya seperti "ganteng banget naah!" , "gagah ehh" , "gak keliatan dari sini."

Setelah menonton upacara, aku dan keluarganya menemui Zuhal. Perasaanku campur aduk. Bahagia banget, grogi, takut, gugup, senang. Aku merasa perjuanganku sepadan dengan apa yang aku dapat sekarang. Hampir 1 bulan tidak bertemu akhirnya dengan bisa bertemu dengan Zuhal. Aku meminta tolong salah satu purna paskib, kakak kelasku, untuk memanggil laki-laki yang selama ini menghantui pikiranku dan membuatku khawatir. Btw gara-gara ini aku di olokin sama temen-temenku. Katanya aku modus waktu itu. Bangkek!

Zuhal dengan gagahnya keluar dari gedung. Tak berekspresi. Seketika perasaanku hancur. Seharusnya aku gak usah datang ya, keliatan banget dia gak mau aku datang. Liat ekspresinya. Tidak ada senyuman yang terlihat. Mukanya di tekuk banget gitu lagi. Nangis aja lah aku. Mendadak aku menjadi fotografer untuk memotret dia dan keluarganya. Setelah foto, aku membatin "Aku juga pingin foto bareng sama Zuhal njir tapi aku takut ngomongnya. Mukanya aja udah kayak monster mau nelen orang". Aku mengembalikan handphone adiknya. Tak ku sangka Zuhal menawarkan foto bareng. Seketika moodku kembali seperti awal, bahagia. Aku langsung mengiyakan dan foto.

Di dalam mobil, aku merasa seperti manusia yang paling bahagia sedunia. Gak ada yang bisa ngalahin rasa bahagiaku sama yang lain. Aku berjanji nanti sore akan menonton penurunan bendera.

💔💔💔

Masih di hari yang sama. Aku menginjakkan kakiku lagi di parkiran ini. Aku dan teman-teman segera menuju lapangan upacara. Sore ini penurunan bendera. Aku menepati janjiku untuk kembali datang kesini walaupun toh dia gak perduli. Perasaanku masih bahagia dan aku berfikir kalau nanti akan ada moment yang bakal lebih bikin aku bahagia. Aku dan teman-teman melewati anak paskib berkumpul. Mataku seketika tertuju pada sosok laki-laki berkulit hitam, berbadan tegap yang tengah membelakangiku. Ingin rasanya aku meneriaku namanya atau memegang punggungnya tapi ku urung niatku.

Cuaca sore ini tidak begitu sepanas tadi pagi. Aku melihatinya dari atas. Seorang temannya membisikan sesuatu pada Zuhal lalu ia menoleh keatas. Ia menatapku sinis. Santai aja dong liatnya! Colok juga nih. Eh, gajadi. Ntar kamu ngambek terus kita tambah gak bisa nyatu. Kemudian ia pergi kedalam kamar mandi. Sebegitu menjijikannya kah aku di matamu sampai kamu tidak pingin melihatku? Seharusnya aku gak datang kesini ya Zu. Maaf sudah bikin moodmu jelek karna kedatanganku. Pelaksanaan penurunan pun di mulai. Aku memerhatikannya hingga selesai upacara.

Aku melihatnya sangat senang. Ya, aku hanya melihatnya dari kejauhan. Ia dan pasukan paskib keluar dari lapangan upacara. Aku tak mau mendekatinya. Aku takut. Sangat takut. Aku terus memerhatikannya tapi ia tidak melirikku sedikitpun. Aku memang salah. Seharusnya memang aku gak ada disini, seharusnya aku gak ngerelain waktuku buat datang cuma liat kamu. Aku salah.

Perasaanku seketika hancur. Sekarang aku bukan manusia yang paling bahagia di bumi ini tetapi manusia yang paling hancur sejagat raya. Seakhirat juga soalnya sedihnya sedih banget. Kamu gak tau apa yang aku lakuin selama ini sampai aku bisa ngeliat kamu di lapangan tadi. Aku susah payah nyari tumpangan demi bisa liat kamu. Aku selalu membayangkan tiap malam kalau tujuh belasan nanti aku ketemu kamu, aku harus ngomong apa. Kamu seharusnya juga mikirin perasaan aku dong, yang! Yang disini, yang disana, dimana-mana. Aku selalu ngedoain kamu setiap hari supaya kamu selalu baik-baik aja disana. Gak ngerasakah gimana dalamnya aku sayang sama kamu Zu? Ya gak ngerasalah. Hatimu aja mati.

Selama ini memang kamu gak pernah menoleh kebelakang Zu. Sedikitpun ndak. Selalu melihat ke depan dan mencari yang lain yang belum tentu baik dan menerima kamu apa adanya, yang siap jatuh demi kamu Zu. Tolong lihat kebelakangmu. Lihat! Ada orang yang di dalam diamnya memperjuangkan kamu yaitu aku. Aku selalu berada di belakangmu, Zuhal. Aku selalu siap menjadi tempatmu pulang. Sebagian mimpimu sudah tercapai ya sekarang. Aku tidak ingin membahas apa yang sudah aku lakukan terhadap impianmu. Yang jelas aku turut bangga sama kamu Tuan, sangat bangga. Tetap semangat menggapai impianmu ya. Apapun yang kamu lakuin, aku selalu mendoakan dan mendukungmu walau sekarang kamu sudah melupakanku..



To be continued..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesepuluh

Hati siapa yang tak tersakiti saat yang dia harapkan hanya terwujud dalam mimpi. Hati siapa yang tak tersakiti saat seseorang yang berkata akan kembali tapi malah tak pernah kembali lagi. Hati siapa yang tak tersakiti saat cinta yang dia rasa, tidak kau rasakan sebaliknya. Hati siapa yang tak tersakiti saat dia berdoa untuk seseorang tapi seseorang itu justru berdoa untuk orang lain. Hati siapa yang tak tersakiti saat dia dengan sabarnya menunggu tapi yang ditunggu itu justru sedang berjuang tuk hidup bersama dengan orng lain. Jadi hati siapa yang tak tersakiti? Jangan bohong. Jangan berpura-pura kau baik-baik saja. Jangan tersenyum jika ingin menangis. Tidakkah kau lelah dengan cinta manusia yang tak kunjung kau dapatkan? Tidakkah kau jenuh dengan pengharapan panjang pada seseorang?

Keenam

Satu kata buat hari ini CAPEK. Sumpah demi apapun rasanya capek luar biasa. Nyari makan malas, gerak malas, ngomong malas. Maunya cm duduk trs chatan. Terus seharian ini bawaannya emosi. Apalagi tadi siang. Rasa badan penuh setan-setan. Si kunyuk tetep jadi pelampiasan amarahku. Wkwkwkk. Untungnya sabar, untungnya mau dengerin. Memang dabest si kunyuk. Padahal malamnya vidcall-an aku maki-maki, paginya ku maki-maki, sampe sore pun ku maki-maki. Malam ini dia gone. Pasti dia ngegame lagi atau enggak nongki sm "sisa" temennya.
Ah, Tuan, rasanya aku pingin cerita banyak tapi apa daya aku bener-bener kecapekan. Mianhae. Btw jangan chat-chat aku nah, rindunya balik tau. Emg kamu mau tanggung jawab? Enggak kan? Kalo ga mau tanggung jawab gak ush chat. Please. Aku sdh berusaha semaksimal mungkin buat gak pengen tau dan gak pengen inget kamu.


Salam rindu dari Yogyakarta

Ketigapuluhdua

"Nah, anak kuliahan bagusnya pakai baju kayak gitu mbak. Cantik. Ndak kek kamu biasanya. Masa pake kemeja kotak-kotak atau ndak kemeja jeans terus celana jeans sm sepatu kets." 
Iyaya cantik tapi aku ndak berniat kalau kuliah pake baju bagus. Enak pake kemeja kotak-kotak atau kemeja warna gelap terus celana jeans cowok di paduin sm sepatu kets. Ah paling enak sud. Daripada harus ribet pake baju bagus karna kalo aku pribadi kalo dah pake baju bagus biasanya hrs keliatan bagus trs. Ribet perasaan kalo harus bolak-balik liat kaca. Ini menurutku pribadi sihh gatau orang lain. Kadang ada sih hasrat pengen juga kayak cewek-cewek yang lain gitu. Keliatan cantik walaupun di kampus cuma gak usah ajalah. Kalo ngampus rembes-rembes aja kecuali kalo jalan baru cantik-cantik walaupun q tak cantik seperti wanita lain. Padahal aku sdh tak gendut tapi tetep aja aku keliatan jelek. Dasarnya emang jelek mau gmn lagi. Hah. Gimana ya bisa cantik kek cewek-cewek lain.. punya muka bersih halus, k…