Langsung ke konten utama

Bongkar Gudang (6)

Lima bulan berlalu dengan sangat lambat. Perasaanku membaik satu persen. Hah, move on itu susah njir. Gak segampang dulu pas masih jaman SMP. Aku mencelupkan kedua tanganku ke dalam kantung serbuk magnesium. Hari ini aku harus bisa manjat sampai atas. Mataku menatap bolder paling atas. Ini gak tinggi kok. Selow aja May. Tunjukin ke Zuhal kalau kamu bisa nyampai ke atas sana. Tanganku mulai memegang bolder yang berada di hadapanku.

“Huzal, liat tanganku kasar karna panjat tebing beberapa minggu ini.” Keluhku manja seraya menunjukkan tanganku yang melepuh dan ada yang berdarah. Zuhal memegang tanganku.

“Udah di bilangin gak usah panjat tebing juga. Aku tau kamu pasti mau modus sama anak baru itukan? Keliatan banget. Hah.” Ujar Zuhal sewot seraya mengelus tanganku.

“Enggak Huzaaal! Aku memang pingin ikut panjat. Lagian aku gak ada aktifitas lain.”

“Bohong. Ah, malas bahas!” Zuhal merengut kesal lalu duduk di atas sofa.

“Kamu jangan ngambek gitu dong. Hilang tampannya nanti.” Bujukku. Aku mendekati Zuhal lalu memeluk tubuhnya yang terasa hangat. Aku bisa mencium bau parfumnya yang khas. Aku sangat menyukai baunya. Semakin lama aku mengeratkan pelukanku. Zuhal melirikku yang sudah menggeliat seperti anak kucing. Ah, aku tau dia pasti luluh gara-gara aku peluk. Gak tahan kan kalau gak meluk balik? Akhirnya Zuhal ikut memelukku. Memelukku lebih erat.

“Kamu jangan sampai suka sama dia ya? Kamu jangan tinggalin aku.” Bisiknya. Aku mengangguk mantap. Bagaimana bisa aku meninggalkan laki-laki yang sangat aku cintai ini? Aku akan selalu berada di sampingmu Zu. Aku akan terus mencintaimu. Percaya deh perempuan cantik kayak Song Hye Kyo ini bakal setia sama laki-laki baterai berjalan kayak kamu. Zuhal mencium kedua pipiku, keningku, hidungku dan daguku. Kebiasaan yang selalu aku suka.

“Kamu juga jangan tinggalin aku ya? Janji?” ujarku seraya mengacungkan kelingkingku. Zuhal melingkarkan kelingkingnya di kelingkingku.

“Janji Amay-ku sayang.” Ujar Zuhal mantap

Aku menjatuhkan tubuhku begitu saja setelah sampai di bolder bagian  tengah. Kenangan itu menghancurkan konsentrasiku. Buru-buru ku teguk minumanku yang tak jauh dariku. Ayo pergilah kamu kenangan manis nan menyakitkan. Biarkan aku hidup dengan tenang. Aku capek nangis terus. Aku capek harus nahan rindu. Ini udah lima bulan tapi perasaan itu terus menghantui. Ayolah hati, liat Zuhal sekarang sudah mencintai perempuan lain. Tak bisa kah aku hidup seperti dia? Ah, stress jika mengomeli hati yang bandel gini.

💔💔💔

"May, kantin yuk beli es krim." seru teman sebangkuku seraya membereskan alat tulisnya yang sejak tadi berhamburan di atas mejanya.

"Gak ah. Kamu aja Joy." ujarku malas. Aku menatap sendu kertas putih yang berada di hadapanku.

"Daripada kamu galau mulu. Ayo kita liat kakak kelas ganteng aja." ujar Joy.

"Ndak minat ah. Aku tetep maunya Zuhal." kataku.

"Iya deh iya. Orang putus cinta gak bisa di lawan. Ayooo temenin!" Joy menarik-narik tanganku.

"Hah, yasudah." Akhirnya aku bangkit dari tempat dudukku. Semoga Zuhal gak ada di depan kelasnya ataupun di kantin. Aku dan Joy segera keluar kelas. 

Joy asik bercerita tentang teman asramanya dulu tapi aku sibuk dengan perasaanku yang bergemuruh karna bakal lewat kelasnya Zuhal. Aku dan Joy menuruni anak tangga bersamaan. Kelasku memang ada di lantai dua karna aku anak IPA. Sedangkan anak IPS berada di lantai 1 dekat kantin. Mampus gak rencana gamau ketemu mantan tapi kelasnya mantan di lantai 1 deket kantin. Wassallam. Tak sengaja aku dan Joy berpapasan dengan nenek lampir dari neraka jahanam. Ketawa-ketawa lagi tuh cewek! Gimanapun juga aku tetap sensi sama tuh nenek lampir walaupun udah maafan. Joy menepuk-nepuk pundakku pelan. Maksudnya biar aku gak emosi. Terlanjur. Udah emosi tingkat S3.

Nenek lampir adalah perempuan laknat yang Zuhal suka pas masih pacaran sm aku. Itu sebabnya aku bisa putus. Ya, itu alasan lain. Padahal tuh cewek gak cantik. Gendut, pendek, sok tau. Pinter sih iya, secara akademik ataupun nyanyi. Aku memang gak pinter scr akademik ataupun nyanyi tapi apa gunanya kalo hati busuk macam nenek lampir?! Emosi kan. Hah, tolong bawakan es cendol. Haus. Gerah.

Aku menggerutu kesal setelah berada di kantin. Joy terus menepuk pundakku. Rasanya tadi pengen jambak jilbabnya. Sekalian cakar mukanya. Gerah liat dia ketawa-ketawa di dunia.

"Emosi anjing! Bangsat! Babi! Laso!" Umpatku.

"Astagfirullah May. Sabar May. Masih aja emosi. Kan udah minta maaf beberapa bulan yang lalu." Ujar Joy.

"Antara gak ikhlas aku maafin dia. Inget gak dia minta maaf tapi merasa gak bersalah? Dia yang ngerespon juga. Memang sih tuh cowok brengsek juga kecentilan tapi seharusnya tuh nenek lampir nyadar lah kalo Zuhal dah punya cewek. Elaaahh, ku bakar juga ndak lama tuh cewek!"

"Iya May sabar. Sabar. Balik kelas yuk. Gak enak di liat orang-orang kamu marah-marah gini."

"Awas aja kalo ntar aku ketemu Zuhal! Ku jambak juga dia!" Aku buru-buru berlalu duluan. Joy berlari mengikutiku. Kayaknya Tuhan lagi jail sama aku hari ini. Pas aku mau lewat kelasnya Zuhal, tiba-tiba Zuhal keluar dengan senyum merekah. Lah anying dia senyum! Mataku terpaku melihat Zuhal tersenyum.

"May!! Awas!" Seru Joy lalu menarik tanganku. Aku terkejut melihat seorang temanku sudah berada di hadapanku beberapa centi. Temanku menggerutu karna hampir aku tabrak. Aku hanya cengengesan.

"Anjir tadi gak konsen aku gara-gara liat Zuhal senyum. Bangsat." Bisikku ke Joy.

"Tadi emosi. Sekarang malah kayak ulat bulu." Ejek Joy.

"Berisik."

"Gak jadi jambak Zuhal?"

"Hehehehe gak jadi."

"May.. May.."

💔💔💔

Beberapa bulan terakhir ini aku naik bus setelah pindah rumah dan gak di anter-jemput Zuhal. Anak-anak berlarian menuju bus masing-masing tapi tidak denganku. Aku hanya menunduk seraya berjalan menuju bus sekolah yang waktu itu aku umpat. Sampe sekarang masih berasa sedihnya kalau udah gak di anter pulang lagi sama Zuhal. Masih ga rela naik bus. Mau di anter pulang Zuhal ajaaa!! Jadi inget waktu itu seminggu setelah putus aku nekat jalan kaki pulanganya gara-gara aku malas naik bus. Padahal rumahku yang baru lumayan jauh.

Aku mencari motor Zuhal di parkiran. Ah, dia belum pulang ternyata. Aku putuskan buat pulang duluan. Aku pulang jalan kaki bukan naik bus kayak temen-temenku yang lain. Aku gamau naik bus pokoknya. Aku berjalan menyusuri trotoar. Kali ini matahari lagi semangatnya nyinarin bumi sampe panasnya kayak ada di sauna. Aku terus menyeka wajahku yg pasti sudah memerah seperti tomat. Orang-orang  yang lewat memperhatikanku. Apa pada liat-liat? Kasihan? Gausah di kasihanin. Gak capek kok jalan kaki. Gini doang!

"May! Mau nebeng?" Tanya seseorang tiba-tiba.

"Ha? Enggak usah! Aku jalan kaki aja. Sekalian cari keringat biar kurus." Ujarku.

"Kasian kamu cewek masa pulang jalan kaki. Zuhal gak mau anter pulang?" Tanyanya.

"Zuhal lagi sibuk Hun. Makanya jalan kaki." Bualku. Ya, sampe saat ini belum ada yg tau kalau aku putus sama Zuhal. Yang mereka tau aku sama Zuhal lagi slek.

"Yaudah deh. Duluan ya. Hati-hati loh." Ujar Sehun.

"Iya. Makasih Hun." Balasku seraya melambaikan tangan.

Aku melanjutkan perjalananku pulang ke rumah. Hah, sedih banget lah aku sore ini. Coba tiba-tiba Zuhal lewat gitu terus anterin aku pulang. Panas banget nih. Mana buku anak IPA tebel-tebel. Patah dah nih punggung nyampe rumah. Aku terus menggerutu di jalan sampai akhirnya sebuah motor gede berwarna kuning-hitam menghampiriku.

"Kenapa kamu jalan kaki bodo?!" Marah si pemilik motor. Aku menatap laki-laki itu.

"Pengen aja." Ujarku asal.

"Cepet naik!" Serunya.

"Enggak. Pulang aja sana."

"Gak usah ngelawan napa sih."

"Gak mau."

"Cepet!" Zuhal menarik tanganku ke belakang motornya. Tentu dengan senang hati aku naik ke atas motornya. Kalau gitu tiap hari ajalah aku jalan kaki biar di anter gini sama Zuhal.

"Kok kamu bisa ada disana?" Tanyaku saat perjalanan ke rmhku.

"Tadi jalan-jalan aja sblm pulang."

"Bukan karna Sehun ngasih tau?"

"Enggak. Emang niatnya mau jalan-jalan."

"Hmm yaudah deh."

Setelah sampai di depan rumah, aku segera turun dari motornya. Ah, aku lupa tadi gak pake helm. Pantes ngerasa masuk angin.

"Makasih ya Zu." Ujarku seraya tersenyum manis biar Zuhal luluh. Tapi nihil. Sia-sia aku.

"Iya. Lain kali gak usah jalan kaki. Rumahmu tuh jauh! Apalagi bawaanmu banyak." Seru Zuhal.

"Insha Allah deh."

"Yasudah aku balik ya."

"Zu.." panggilku sebelum ia pergi.

"Kenapa?"

"Aku rindu. Sangat rindu." Ujarku lirih. Zuhal hanya menatapku tanpa ekspresi lalu pergi meninggalkanku di depan rumah. Air mataku mengalir begitu saja. Aku mendudukan tubuhku di tangga depan rumah. Aku beneran kangen Zuhal. Aku pingin liat kamu terus. Aku masih mau di anterin pulang sama kamu. Zuhal, aku mohon nah balik. Please, Zuhal. Aku gak kuat nahan rindu gini. Kamu jahat banget sih. Brengsek!!! Katanya kamu gak bakal ninggalin aku! Gak tega nyakitin aku! Liat sekarang?! Kamu malah pergi dan ninggalin aku nangis disini. Aku menangis sejadi-jadinya sebelum masuk ke dalam rumah.


To be continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesepuluh

Hati siapa yang tak tersakiti saat yang dia harapkan hanya terwujud dalam mimpi. Hati siapa yang tak tersakiti saat seseorang yang berkata akan kembali tapi malah tak pernah kembali lagi. Hati siapa yang tak tersakiti saat cinta yang dia rasa, tidak kau rasakan sebaliknya. Hati siapa yang tak tersakiti saat dia berdoa untuk seseorang tapi seseorang itu justru berdoa untuk orang lain. Hati siapa yang tak tersakiti saat dia dengan sabarnya menunggu tapi yang ditunggu itu justru sedang berjuang tuk hidup bersama dengan orng lain. Jadi hati siapa yang tak tersakiti? Jangan bohong. Jangan berpura-pura kau baik-baik saja. Jangan tersenyum jika ingin menangis. Tidakkah kau lelah dengan cinta manusia yang tak kunjung kau dapatkan? Tidakkah kau jenuh dengan pengharapan panjang pada seseorang?

Keenam

Satu kata buat hari ini CAPEK. Sumpah demi apapun rasanya capek luar biasa. Nyari makan malas, gerak malas, ngomong malas. Maunya cm duduk trs chatan. Terus seharian ini bawaannya emosi. Apalagi tadi siang. Rasa badan penuh setan-setan. Si kunyuk tetep jadi pelampiasan amarahku. Wkwkwkk. Untungnya sabar, untungnya mau dengerin. Memang dabest si kunyuk. Padahal malamnya vidcall-an aku maki-maki, paginya ku maki-maki, sampe sore pun ku maki-maki. Malam ini dia gone. Pasti dia ngegame lagi atau enggak nongki sm "sisa" temennya.
Ah, Tuan, rasanya aku pingin cerita banyak tapi apa daya aku bener-bener kecapekan. Mianhae. Btw jangan chat-chat aku nah, rindunya balik tau. Emg kamu mau tanggung jawab? Enggak kan? Kalo ga mau tanggung jawab gak ush chat. Please. Aku sdh berusaha semaksimal mungkin buat gak pengen tau dan gak pengen inget kamu.


Salam rindu dari Yogyakarta

Ketigapuluhdua

"Nah, anak kuliahan bagusnya pakai baju kayak gitu mbak. Cantik. Ndak kek kamu biasanya. Masa pake kemeja kotak-kotak atau ndak kemeja jeans terus celana jeans sm sepatu kets." 
Iyaya cantik tapi aku ndak berniat kalau kuliah pake baju bagus. Enak pake kemeja kotak-kotak atau kemeja warna gelap terus celana jeans cowok di paduin sm sepatu kets. Ah paling enak sud. Daripada harus ribet pake baju bagus karna kalo aku pribadi kalo dah pake baju bagus biasanya hrs keliatan bagus trs. Ribet perasaan kalo harus bolak-balik liat kaca. Ini menurutku pribadi sihh gatau orang lain. Kadang ada sih hasrat pengen juga kayak cewek-cewek yang lain gitu. Keliatan cantik walaupun di kampus cuma gak usah ajalah. Kalo ngampus rembes-rembes aja kecuali kalo jalan baru cantik-cantik walaupun q tak cantik seperti wanita lain. Padahal aku sdh tak gendut tapi tetep aja aku keliatan jelek. Dasarnya emang jelek mau gmn lagi. Hah. Gimana ya bisa cantik kek cewek-cewek lain.. punya muka bersih halus, k…