Bongkar Gudang (9)



I’ve seen a lot of stars.
They were filling the gaps with bright light.

I met the wind that rubbed me.
I touched the end of the flesh and wrapped it in warmth.

It is only you that is cold for me
It is only you who does not come to you anyhow

I heard the tranquil sound
I was calling a name I lost.

It is only you that is cold for me
It is only you who does not come to you anyhow

It is only you that love is to me
Only you can reach within a few pounds

I’ve seen a lot of stars.

They were filling the gaps with bright light

Lagi-lagi aku menangis karna merindukannya. Dadaku begitu sesak menahan rindu yang semakin bertumpuk. Menahan rindu itu berat. Sungguh. Aku terus memeluk Muza hanya untuk menenangkanku. Yang aku rasakan hanya rindu, rindu, dan rindu. Aku pingin peluk Zuhal sekarang. Aku rindu banget. Gak bohong. Aku mengambil handphoneku yang berada di sampingku. Aku baca ulang chat-chatku sama dia selama masih pacaran. Kesekian kalinya aku baca chatku sama Zuhal. Iya, aku belum ngapusin kenanganku sama Zuhal. Aku belum tega.

“Huzal, kangen..” lirihku seraya menatap foto Zuhal yang pernah dia kirim sebelum putus. Dia sangat tampan. Aku sangat menyukai wajahnya. Mungkin hanya aku saja yang beranggapan wajahnya sangat sempurna. Ini bukan pujian tapi ini sungguh. Aku tidak pernah melihat Zuhal jelek selama ini. Kapan ia terlihat jelek? Walaupun ia menjadi seorang perempuan pun, ia akan terlihat cantik.

Aku : Riss, aku kangen Zuhal..
Risa : Chat aja gih sana
Aku : Dia masih blokir aku kayaknya
Risa : Kalian tuh kenapa sih udah putus tapi masih kayak orang pacaran?
Aku : Aaa gatau. Pokoknya aku kangen sama Zuhal. Aku pingin kayak dulu lagi. Aku gatau harus gimana sekarang. Aku udah gak kuat. Capek nahan rindu. Aku pingin Zuhal nah Ris. Pingin banget :’( :’(
Risa : Kamu di rumah kan ini? Aku ke rumahmu sekarang
Aku : Iya

Tak lama kemudian, Risa datang. Ia masuk begitu saja ke kamarku. Risa terkejut melihat wajahku yang bengkak karna terlalu lama menangis. Memang gini. Kebiasaan. Kalau udah kangen sama Zuhal, gak bisa nangis cuma bentar doang. Risa merangkulku seraya mengusap punggungku. Dia memang paling tau gimana terlukanya aku karna Zuhal. Gimana perjuanganku buat keliatan baik-baik aja. Dia paling ngerti kalau aku sudah kangen sama Zuhal. Dan dia yang selalu ada buat aku selama ini. Untung pacarnya ngerti aku lagi butuh Risa.

“Mau aku telponin kah?” tanya Risa. Aku menggelengkan kepala.

“Ris.. aku kangen sama Zuhal. Serius gak bohong. Kangen banget.” Isakku.

“Iya aku tau.” Ujar Risa. Aku tau Risa pun bingung harus gimana nanggepin sahabatnya ini.

“Mana janjimu gak bakal ninggalin aku… Mana janjimu bakal terus sayang sama aku…” gumamku seraya memeluk erat Muza. Itu kata-kata yang selalu aku lontarkan ketika aku benar-benar rindu. “Ris, aku sayang banget sama Zuhal. Aku udah capek nyoba move on. Aku pingin cinta sama Zuhal aja terus.” Isakku. Risa terus mengusap punggungku.

Aku mengambil sebuah kardus dari dalam lemariku. Disana tertempel kertas bertuliskan "Zuhal's". Biasanya kalau aku lagi rindu, suka ngambil kardus ini baru flashback-flashback gitu. Aku mengambil sekumpulan surat-surat yang sejak dulu aku kumpulin. Tangisku sejak tadi belum juga berhenti. Di tambah aku flashback gini, makin pecah rasanya. Risa duduk di sampingku seraya melihat-lihat barang yang ada di dalam kardus. 

"Dulu, aku sama Zuhal paling seneng surat-suratan. Enggak sih, aku yang paling suka ngasih surat ke dia. Malah aku hias-hias gitu. Hahaha." tawaku lirih. Aku mulai membuka salah satu surat pemberian Zuhal. 

"Aku pikir dulu kalian bakal langgeng terus tapi ternyata Tuhan punya rencana yang lebih baik May buat kamu. Kamu harus terus kuat ya. Jangan nangis mulu." ujar Risa menyemangatiku. Setelah aku membaca surat-surat dari Zuhal, aku mulai meratapi gelang-gelang yang dulu jaman SMP Zuhal kasih sebagai kado. Waktu itu surprise ulang tahun pertama yang dia kasih ke aku.

"Zuhal paling tau apa yang aku suka loh. Dia laki-laki paling romantis yang aku punya. Aku berasa gak enak sama dia sekarang karna sering kali aku gak pernah ngehargain usahanya dulu. Aku terlalu egois. Aku lupa kalau suatu saat Zuhal juga bisa hilang kayak sekarang." ujarku. Kemudian aku mengambil beberapa foto Zuhal yang aku print. Sebenarnya aku pingin tempelin di album foto kecil tapi wacana mulu. 

"Lucu ya Zuhal dulu pas kecil. Gemesin." Aku kembali tertawa lirih melihat foto-foto Zuhal ketika masih kecil. Dia keliatan sangat manis. Pipinya yang tembam membuatku ingin menggigitnya. Hahaha. "Foto favoritku yang ini." seruku. Aku mengambil foto Zuhal kecil yang sedang tersenyum lebar menampakkan gigi-giginya yang tidak rata. Risa menepuk pundakku ketika melihatku kembali menangis. 

"Aku kangen masa-masa SMP. Mulai dari pertama kali Zuhal nyuruh aku ke tojas buat ngasih tau siapa yang suka sama aku dan ternyata dia sendiri, pas perkusi, study tour, pas aku marah sama dia dan dia beliiin aku takoyaki kesukaan aku, ngasih aku bunga walaupun dia asal cabut, ngasih aku surprise juga kalau aku marah, pokoknya aku kangen semuanya. Aku juga inget pas Zuhal gak sengaja mukul mukaku karna mau mukul Ita. Aku nangis-nangis marah sama dia. Hahaha gobles banget. Aku juga inget Zuhal bikin candle light sederhana di obor. Mungkin menurutmu alay Ris, tapi menurutku ituu bener-bener bikin aku bahagia banget. Dia masakin aku coba. Dia bener-bener memperlakukan aku dengan baik Ris. Dia ngelindungin aku banget. Dia juga nyayangin aku banget. Itu yang buat aku bener-bener jatuh cinta sama dia. Dan itu sebabnya aku belum bisa ngelepasin dia..... Aku kangen Ris. Kangen bannget." ujarku sambil terisak. Risa akhirnya memelukku.

"Kalian berdua bisa ngedapatin pasangan yang lebih baik lagi. Sudah, sudah." ujar Risa. Aku menangis sejadi-jadinya. Zuhal, seberat apapun rindu yang aku tanggung, aku bakal terus merindukanmu. Seperih apapun kenangan kita, aku janji gak akan ngelupain sedikitpun itu. Aku mencintaimu, Zu.

💔💔💔

Selama aku nyoba move on, aku lebih terlihat seperti orang gila. Sumpah. Aku lebih sering ngomong sendiri sama Muza atau tiba-tiba nangis gak jelas. Aku gak pernah bisa fokus belajar. Aku paling susah ketawa. Dideketin cowok malah ilfil. Gatau deh kenapa jadi aneh gini. Itu bertahan hampir 5 bulanan. Sekarang sudah lebih dari setahun setengah aku nyoba move on dari Zuhal. Perasaan itu tetap sama. Walaupun kerap kali Zuhal ketauan deket sama cewek lain atau suka sama cewek lain, hatiku tidak bergerak sedikitpun untuk melepaskan Zuhal. Sakit sih tapi gatau nih hati tetep aja milih cowok brengsek. Aku selalu ngerasa aku adalah rumah untuk Zuhal. Kemanapun Zuhal berlari dan bermain, ketika dia lelah pasti akan kembali ke rumahnya yaitu aku. Orang-orang selalu mengatakan aku bodoh karna terus berada di belakang Zuhal. Apa ini namanya cinta yang tulus atau aku hanya terobsesi dengannya?

Aku juga ingin menceritakan tentang hal ini. Ketika Zuhal mendekati seorang perempuan dan perempuan itu ternyata memiliki visual yang cantik dan feminim, aku merasa tidak pantas marah atau cemburu dengan perempuan tersebut karna aku pun tidak mempunyai sesuatu yang bisa di banggakan. Paling aku hanya mengumpat di belakang saja. Bagaimana bisa dulu Zuhal menyukaiku ya? Haha. Apa menariknya aku? Aku tidak memiliki visual yang bagus seperti sederetan mantannya ataupun gadis yang di dekatinya. Aku iri dengan perempuan-perempuan tersebut. Zuhal tak perlu malu jika jalan dengannya. Pasti dengan bangga Zuhal akan memamerkannya. Wajar saja jika Zuhal bisa menyayangi mereka dengan tulus. 

Berapa kali pun aku meminta Tuhan untuk mengembalikan Zuhal kepadaku, aku tetap tidak bisa memilikinya. Aku selalu melepaskannya. Bukan karna aku tidak mencintainya, hanya saja aku  tidak tega melihat ia sakit karnaku. Aku tidak mau ia tersakiti. Aku juga takut semua kejadian yang lalu terulang saat ini. Cukup aku saja yang terluka karna hubungan kita, jangan kamu. Aku tidak tega melihatmu terluka, Zu. Mungkin lebih baik kamu bersama perempuan lain walaupun itu membuatku terluka. Tak apa. Aku ini kuat tau, lebih kuat di banding kamu. Percayalah.

💔💔💔

Menyenangkan UAN matematika selesai walaupun membuatku stress setengah mati. Ah, seharusnya aku tidak streaming exo nampil tadi malam. Semuanya jadi berantakan seperti ini. Aku merutuki diriku yang tidak belajar sungguh-sungguh sehabis les. Yasudahlah mau di apa. Aku melewati lorong menuju parkiran belakang sekolah. Kebetulan segerombolan anak IPS melewatiku.

"Sukses?" tanya Risa.

"Insha Allah. Hahaha." jawabku. 

Mataku langsung melirik laki-laki yang sedang asik mengobrol dengan teman di sampingnya. Semangat Zu, kamu pasti bisa. Aku kembali fokus dengan jalanku. Sesampai di parkiran, aku jadi kepikiran Zuhal. Hingga detik ini aku masih mencintainya seperti tiga tahun yang lalu. Tapi aku sudah bisa menghilangkan rindu dengannya kok. Aku mulai bisa tersenyum dan tertawa lepas walaupun masih galau-galau sih kadang. Yaa, namanya proses. Seenggaknya mendingan. Hehehe. Aku juga mulai bisa fokus dengan kegiatanku. Semenjak awal kelas tiga SMA, aku mulai memperpadat jadwalku. Sebisa mungkin dari pagi hingga malam, aku pasti ada kegiatan. Hanya sabtu minggu saja aku bisa beristirahat total. Alasan pertama karna aku ingin mencoba move on dengan kegiatan-kegiatan positif, yang kedua karna aku memang butuh banyak les. Aku pastikan pas mau kuliah nanti aku sudah benar-benar move on dari Zuhal. Kalau bisa sih, besok sudah move on. Ah, aku juga sudah tidak ngestalk Zuhal lagi karna itu menghancurkan segala-galanya. Aku tidak mau tau dia dekat dengan siapa, dia lagi suka kegiatan apa, dia lagi kena masalah apa. Aku sudah tidak perduli.

Aku rasa aku sudah mulai mengerti sesuatu yang bukan milikku, tidak boleh aku paksakan untuk menjadi milikku. Contohnya Zuhal. Zuhal memang bukan untukku. Dia hanya sebagai pewarna dalam hidupku. Kalaupun nantinya aku tetap mencintainya, aku akan mencintainya di dalam hati saja. Aku tidak akan pernah memintanya kembali. Aku akan membiarkannya mencintai seseorang yang ingin ia cintai. Percayalah, aku tidak akan mengusik mereka. Zuhal bahagia, aku juga akan bahagia.


To be continued...

Komentar

Postingan Populer